TANDA PELANTIKAN BERLAKU SEUMUR HIDUP
Tanda Pelantikan Putra
Tanda Pelantikan Putri
Tanda Pelantikan disematkan pada saat pertama kali seseorang menjadi anggota Pramuka. Selama itu pula berrlaku seumur hidup.
Jadi setiap ada Acara Pelantikan, tidak perlu harus menyematkan lagi tanda ini, dan cukup dengan mengucapkan Ulang Janji Tri Satya/ Dwi Satya
Cari Blog Ini
Minggu, 06 Maret 2011
Mengapa Pejabat Harus Jadi Pramuka?
"PRAMUKA siapa yang punya, pramuka siapa yang punya, pramuka siapa yang punya, yang punya kita semua." Nyanyian tersebut sering menggema di telinga masyarakat, bukan hanya anggota pramuka, melainkan juga semua "orang" yang berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jika dicermati, kata kita pada lagu di atas seakan-akan memberikan pemahaman, pramuka adalah milik seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali. Dalam konteks yang aplikatif, pemakaian kata kita juga mengandung muatan "pemaksaan" kepada setiap orang, mau tidak mau, suka tidak suka, harus mengakui pramuka memang milik semua. Benarkah demikian? Bukankah hal tersebut hanya lagu? Sejauh manakah pemaksaan tersebut mengkristal dalam gerakan pramuka? Setidaknya, pertanyaan tersebut patut untuk disikapi secara kritis karena fenomena yang berkembang di lapangan, pramuka bukan milik kita semua, melainkan hanya milik kami.
Dalam konteks pemahaman tentang pemaksaan yang menggejala di tubuh gerakan pramuka, saya memahami hal itu sebagai sesuatu yang membelenggu gerakan pramuka sehingga membuat satu-satunya organisasi yang berhak menyelenggarakan pendidikan kepanduan tersebut, hanya menjadi robot.
Secara sederhana pemaksaan yang mudah dilihat adalah jabatan majelis pembimbing. Seorang camat wajib menjadi ketua majelis pembimbing ranting, bupati/wali kota wajib menjadi ketua majelis pembimbing cabang, gubernur wajib menjadi ketua majelis pembimbing daerah, dan presiden wajib menjadi ketua majelis pembimbing nasional, terlepas suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, mampu atau tidak mampu, serta mencintai dunia pramuka.
Cari Dukungan Pemaksaan pejabat teras di suatu wilayah secara otomatis untuk menjadi ketua majelis pembimbing gerakan pramuka sebenarnya merupakan upaya pramuka mendapat dukungan dari berbagai pihak dan menjadikan pramuka sebagai superhero di antara organisasi lain.
Kemudahan dalam birokrasi dan kucuran dana, itulah sebenarnya yang merupakan muara dari pemaksaan para pejabat tersebut. Bukan hanya itu, gerakan pramuka juga melebarkan sayap ke berbagai dimensi kehidupan. Mereka yang senang di bidang kedirgantaraan dibina di saka dirgantara, pariwisata dibina saka panduwisata, kepolisian dibina saka bayangkara, kehutanan dibina saka wanabakti, pertanian dibina saka taruna bumi, dan saka-saka lain.
Dalam dunia pendidikan pun, sekolah diwajibkan memiliki gugus depan, baik itu SD, SLTP, SMU/SMK, maupun perguruan tinggi. Bahkan di desa, gerakan pramuka menyediakan tempat pembinaan di gugus depan teritorial walau banyak kepala desa/kelurahan tak paham hal tersebut.
Orang-orang yang lanjut usia pun diberi wadah khusus dalam pembinaannya dalam pandu wreda dan hiprada.
Kekuatan yang merata secara kuantitatif itulah yang menjadikan pramuka selalu berbangga diri. Apalagi kenyataan di lapangan, tidak ada satu organisasi pun yang mampu mengungguli pramuka dalam hal keanggotaan, keterlibatan pejabat pemerintah, dan dukungan dana.
Kepemimpinan Kekuasaan Dalam konteks pemahaman tentang organisasi, D Hampton dalam Cribbin (1990) mengatakan, paling tidak ada enam jenis organisasi, yakni (1) kebapakan yang menempatkan pemimpin sebagai pembantu, pengayom, dan manipulator halus, (2) birokratis yang mensyaratkan pemimpin sebagai pemelihara, (3) autokratis, merupakan potret pemimpin yang mau berkuasa, (4) berwenang berhubungan dengan pemimpin sebagai direktur eksekutif, (5) konsultatif, mencirikan pemimpin dalam organisasi sebagai katalisator, pendukung, suka mempermudah, dan (6) inovatif menempatkan pemimpin sebagai penggiat dan integrator.
Jika ditelaah lebih mendalam, gerakan pramuka merupakan perpaduan jenis organisasi kebapakan dan konsultatif. Hal tersebut diindikasikan dari keberadaan gerakan pramuka dewasa ini, yang lebih memercayakan suatu kepemimpinan berdasarkan kekuasaan, karisma, kepercayaan, dan keteladanan.
Bukan berdasarkan keahlian dan persetujuan rasional layaknya jenis organisasi yang inovatif.
Menurut pendapat saya, sudah saatnya gerakan pramuka berparadigma baru dengan mengelola organisasi secara inovatif dengan mementingkan kualitas, partisipasi, tekad bersama, dan mengoptimalkan peran gugus depan di setiap tingkatan pramuka.
Hal ini karena stakeholder gerakan pramuka adalah orang-orang yang memahami secara komprehensif terhadap tata nilai yang berlaku di dalamnya, bukan mereka yang dipaksa untuk memahami tata nilai tersebut dalam rentang waktu yang relatif pendek dan mendadak.
Paradigma baru gerakan pramuka dengan format inovatif tentu memerlukan pemahaman yang rasional, bukan emosional. Hal tersebut dilandasi perkembangan gerakan pramuka yang ke depan, yang harus mandiri dan terbebas dari belenggu ikatan kekuasaan. Format baru yang inovatif tersebut berakar dari pentingnya kreativitas gerakan pramuka dalam merumuskan segala bentuk kegiatan.
Arti penting kreativitas dalam pembinaan pramuka juga didasari atas keminiman keterampilan pembina dalam menumbuhkembangkan kemampuan anggota gerakan pramuka. Sering kita lihat, ketika seorang pembina pramuka berada di tengah-tengah peserta didiknya dan hendak menyanyi bersama sebagai pembuka pertemuan, sudah pasti lagu yang muncul adalah "di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang". Mengapa harus itu? Tidakkah ada lagu lain?
Kreativitas
Pramuka dengan paradigma baru yang menekankan kreativitas merupakan wujud penerapan nilai-nilai dasar gerakan pramuka. Paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika gerakan pramuka ingin memberikan kontribusi nyata terhadap kelangsungan pembangunan.
Pertama, keberanian untuk mandiri dan terlepas dari ikatan kekuasaan.
Walaupun terasa berat, hal tersebut merupakan upaya awal dalam menumbuhkan kreativitas gerakan pramuka sehingga pramuka tidak dicap sebagai organisasi milik pemerintah. Konsekuensi logisnya adalah tidak perlu mewajibkan pejabat pemerintah menjadi ketua majelis pembimbing.
Kedua, memperkuat keberadaan gugus depan yang merupakan inti segala bentuk pembinaan pramuka dengan memberikan kebebasan dan kreativitas dalam merumuskan kegiatan yang bermanfaat bagi pramuka.
Ketiga, membekali pembina pramuka dengan kegiatan yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan sehingga tidak terpaku pada pola-pola kebiasaan lama. Berbagai variasi teknik pembinaan, nyanyian, dan tepuk yang merupakan inti pembinaan pramuka perlu dikembangkan dan ditingkatkan secara berkala dengan pertemuan pembina (karang pamitran).
Keempat, mengaktifkan peran serta masyarakat sebagai salah bentuk membudayakan pramuka dengan serangkaian kegiatan bakti sehingga pramuka memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Empat hal di atas dapat dijadikan pijakan dalam paradigma baru gerakan pramuka sehingga dapat meningkatkan eksistensi gerakan pramuka menuju kemandirian dan kreativitas. Saptakarsa Utama Gerakan Pramuka memang pernah dirumuskan pada tahun 2000 sebagai wujud paradigma baru dalam pembinaan pramuka. Namun, pada tahap implementasi paradigma tersebut tidak berhasil mencapai sasaran yang ditetapkan.
"PRAMUKA siapa yang punya, pramuka siapa yang punya, pramuka siapa yang punya, yang punya kita semua." Nyanyian tersebut sering menggema di telinga masyarakat, bukan hanya anggota pramuka, melainkan juga semua "orang" yang berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jika dicermati, kata kita pada lagu di atas seakan-akan memberikan pemahaman, pramuka adalah milik seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali. Dalam konteks yang aplikatif, pemakaian kata kita juga mengandung muatan "pemaksaan" kepada setiap orang, mau tidak mau, suka tidak suka, harus mengakui pramuka memang milik semua. Benarkah demikian? Bukankah hal tersebut hanya lagu? Sejauh manakah pemaksaan tersebut mengkristal dalam gerakan pramuka? Setidaknya, pertanyaan tersebut patut untuk disikapi secara kritis karena fenomena yang berkembang di lapangan, pramuka bukan milik kita semua, melainkan hanya milik kami.
Dalam konteks pemahaman tentang pemaksaan yang menggejala di tubuh gerakan pramuka, saya memahami hal itu sebagai sesuatu yang membelenggu gerakan pramuka sehingga membuat satu-satunya organisasi yang berhak menyelenggarakan pendidikan kepanduan tersebut, hanya menjadi robot.
Secara sederhana pemaksaan yang mudah dilihat adalah jabatan majelis pembimbing. Seorang camat wajib menjadi ketua majelis pembimbing ranting, bupati/wali kota wajib menjadi ketua majelis pembimbing cabang, gubernur wajib menjadi ketua majelis pembimbing daerah, dan presiden wajib menjadi ketua majelis pembimbing nasional, terlepas suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, mampu atau tidak mampu, serta mencintai dunia pramuka.
Cari Dukungan Pemaksaan pejabat teras di suatu wilayah secara otomatis untuk menjadi ketua majelis pembimbing gerakan pramuka sebenarnya merupakan upaya pramuka mendapat dukungan dari berbagai pihak dan menjadikan pramuka sebagai superhero di antara organisasi lain.
Kemudahan dalam birokrasi dan kucuran dana, itulah sebenarnya yang merupakan muara dari pemaksaan para pejabat tersebut. Bukan hanya itu, gerakan pramuka juga melebarkan sayap ke berbagai dimensi kehidupan. Mereka yang senang di bidang kedirgantaraan dibina di saka dirgantara, pariwisata dibina saka panduwisata, kepolisian dibina saka bayangkara, kehutanan dibina saka wanabakti, pertanian dibina saka taruna bumi, dan saka-saka lain.
Dalam dunia pendidikan pun, sekolah diwajibkan memiliki gugus depan, baik itu SD, SLTP, SMU/SMK, maupun perguruan tinggi. Bahkan di desa, gerakan pramuka menyediakan tempat pembinaan di gugus depan teritorial walau banyak kepala desa/kelurahan tak paham hal tersebut.
Orang-orang yang lanjut usia pun diberi wadah khusus dalam pembinaannya dalam pandu wreda dan hiprada.
Kekuatan yang merata secara kuantitatif itulah yang menjadikan pramuka selalu berbangga diri. Apalagi kenyataan di lapangan, tidak ada satu organisasi pun yang mampu mengungguli pramuka dalam hal keanggotaan, keterlibatan pejabat pemerintah, dan dukungan dana.
Kepemimpinan Kekuasaan Dalam konteks pemahaman tentang organisasi, D Hampton dalam Cribbin (1990) mengatakan, paling tidak ada enam jenis organisasi, yakni (1) kebapakan yang menempatkan pemimpin sebagai pembantu, pengayom, dan manipulator halus, (2) birokratis yang mensyaratkan pemimpin sebagai pemelihara, (3) autokratis, merupakan potret pemimpin yang mau berkuasa, (4) berwenang berhubungan dengan pemimpin sebagai direktur eksekutif, (5) konsultatif, mencirikan pemimpin dalam organisasi sebagai katalisator, pendukung, suka mempermudah, dan (6) inovatif menempatkan pemimpin sebagai penggiat dan integrator.
Jika ditelaah lebih mendalam, gerakan pramuka merupakan perpaduan jenis organisasi kebapakan dan konsultatif. Hal tersebut diindikasikan dari keberadaan gerakan pramuka dewasa ini, yang lebih memercayakan suatu kepemimpinan berdasarkan kekuasaan, karisma, kepercayaan, dan keteladanan.
Bukan berdasarkan keahlian dan persetujuan rasional layaknya jenis organisasi yang inovatif.
Menurut pendapat saya, sudah saatnya gerakan pramuka berparadigma baru dengan mengelola organisasi secara inovatif dengan mementingkan kualitas, partisipasi, tekad bersama, dan mengoptimalkan peran gugus depan di setiap tingkatan pramuka.
Hal ini karena stakeholder gerakan pramuka adalah orang-orang yang memahami secara komprehensif terhadap tata nilai yang berlaku di dalamnya, bukan mereka yang dipaksa untuk memahami tata nilai tersebut dalam rentang waktu yang relatif pendek dan mendadak.
Paradigma baru gerakan pramuka dengan format inovatif tentu memerlukan pemahaman yang rasional, bukan emosional. Hal tersebut dilandasi perkembangan gerakan pramuka yang ke depan, yang harus mandiri dan terbebas dari belenggu ikatan kekuasaan. Format baru yang inovatif tersebut berakar dari pentingnya kreativitas gerakan pramuka dalam merumuskan segala bentuk kegiatan.
Arti penting kreativitas dalam pembinaan pramuka juga didasari atas keminiman keterampilan pembina dalam menumbuhkembangkan kemampuan anggota gerakan pramuka. Sering kita lihat, ketika seorang pembina pramuka berada di tengah-tengah peserta didiknya dan hendak menyanyi bersama sebagai pembuka pertemuan, sudah pasti lagu yang muncul adalah "di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang". Mengapa harus itu? Tidakkah ada lagu lain?
Kreativitas
Pramuka dengan paradigma baru yang menekankan kreativitas merupakan wujud penerapan nilai-nilai dasar gerakan pramuka. Paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika gerakan pramuka ingin memberikan kontribusi nyata terhadap kelangsungan pembangunan.
Pertama, keberanian untuk mandiri dan terlepas dari ikatan kekuasaan.
Walaupun terasa berat, hal tersebut merupakan upaya awal dalam menumbuhkan kreativitas gerakan pramuka sehingga pramuka tidak dicap sebagai organisasi milik pemerintah. Konsekuensi logisnya adalah tidak perlu mewajibkan pejabat pemerintah menjadi ketua majelis pembimbing.
Kedua, memperkuat keberadaan gugus depan yang merupakan inti segala bentuk pembinaan pramuka dengan memberikan kebebasan dan kreativitas dalam merumuskan kegiatan yang bermanfaat bagi pramuka.
Ketiga, membekali pembina pramuka dengan kegiatan yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan sehingga tidak terpaku pada pola-pola kebiasaan lama. Berbagai variasi teknik pembinaan, nyanyian, dan tepuk yang merupakan inti pembinaan pramuka perlu dikembangkan dan ditingkatkan secara berkala dengan pertemuan pembina (karang pamitran).
Keempat, mengaktifkan peran serta masyarakat sebagai salah bentuk membudayakan pramuka dengan serangkaian kegiatan bakti sehingga pramuka memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Empat hal di atas dapat dijadikan pijakan dalam paradigma baru gerakan pramuka sehingga dapat meningkatkan eksistensi gerakan pramuka menuju kemandirian dan kreativitas. Saptakarsa Utama Gerakan Pramuka memang pernah dirumuskan pada tahun 2000 sebagai wujud paradigma baru dalam pembinaan pramuka. Namun, pada tahap implementasi paradigma tersebut tidak berhasil mencapai sasaran yang ditetapkan.
WARNA DAN ARTI WARNA
Dalam Lingkungan Gerakan Pramuka kita mengenal beberapa warna termasuk arti warnanya. Warna yang memiliki arti kiasan sangat membantu dalam menciptakan sebuah gambar agar lebih bermakna dan memberikan motivasi bagi penggunanya.
Berikut ini beberapa jenis warna dan arti warna di dalamnya :
NO JENIS WARNA ARTI WARNA NO JENIS WARNA ARTI WARNA
1 Merah a. keberanian
b. dinamika
c. wanita
d. surya (matahari)
e. kasih sayang 5 Biru a. daratan
b. kemakmuran
c. keta’atan
d. taqwa
2 Putih a. kemurnian
b. kebersihan
c. kesucian
d. kewajiban
e. prasahajaan
f. pria
g. Candera (bulan) 6 Biru tua a. laut
b. kesetiaan
c. ketekunan
d. ketabahan
3 Kuning a. kejayaan
b. kebesaran
c. keemasan 7 Hitam a. kedalaman
b. kesungguh- sungguhan
4 Hijau a. keagungan
b. kesejahteraan
c. kebijaksanaan
d. kecerdasan
Sumber :
Lampiran I Kepres RI No. 448 tahun 1961
Dalam Lingkungan Gerakan Pramuka kita mengenal beberapa warna termasuk arti warnanya. Warna yang memiliki arti kiasan sangat membantu dalam menciptakan sebuah gambar agar lebih bermakna dan memberikan motivasi bagi penggunanya.
Berikut ini beberapa jenis warna dan arti warna di dalamnya :
NO JENIS WARNA ARTI WARNA NO JENIS WARNA ARTI WARNA
1 Merah a. keberanian
b. dinamika
c. wanita
d. surya (matahari)
e. kasih sayang 5 Biru a. daratan
b. kemakmuran
c. keta’atan
d. taqwa
2 Putih a. kemurnian
b. kebersihan
c. kesucian
d. kewajiban
e. prasahajaan
f. pria
g. Candera (bulan) 6 Biru tua a. laut
b. kesetiaan
c. ketekunan
d. ketabahan
3 Kuning a. kejayaan
b. kebesaran
c. keemasan 7 Hitam a. kedalaman
b. kesungguh- sungguhan
4 Hijau a. keagungan
b. kesejahteraan
c. kebijaksanaan
d. kecerdasan
Sumber :
Lampiran I Kepres RI No. 448 tahun 1961
LORD BADEN POWELL:
MENGUBAH DUNIA MELALUI GENERASI MUDA
Sebagian besar dari kita tentu pernah mengikuti atau memiliki teman/kerabat yang pernah mengikuti kegiatan kepanduan (di Indonesia Pramuka). Kegiatan kepanduan sangat populer dan dipandang positif di seluruh dunia. Puluhan juta anak dan remaja di seluruh dunia menjadi anggota pandu. Neil Armstrong, astronot kondang, adalah alumnus dari kegiatan kepanduan.
Sejarah kepanduan telah berlangsung lebih dari satu abad, dimulai pada peralihan abad 19-20. Pelopornya tidak lain adalah Bapak Pandu sedunia, Lord Baden-Powell. Kecintaan Powell terhadap aktivitas luar ruang terbentuk sejak kecil. Dilahirkan tanggal 2 Februari 1857, Robert Baden-Powell merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara (sepuluh bila tiga orang saudaranya yang meninggal ketika bayi dihitung). Masa kecilnya dihabiskan dengan banyak bermain di hutan kecil di samping sekolahnya. Powell terkenal sebagai anak yang serba bisa. Selain keterampilannya pada aktivitas outdoor, Powell juga piawai dalam hal melukis, melawak, menyanyi, dan menjadi aktor drama. Tetapi, Powell memang pada dasarnya jauh lebih suka aktivitas outdoor ketimbang belajar dalam kelas. Ia akhirnya gagal masuk perguruan tinggi bergengsi Universitas Oxford, dan sebaliknya berhasil cemerlang masuk dalam jajaran militer.
Kariernya dalam dunia militer melejit pesat. Ia melanglang buana ke banyak negeri dan mengasah keterampilan mengintai dan mencari jalan. Pengetahuannya di bidang tersebut dituangkannya dalam beberapa buku terlaris seperti Reconaissance and Scouting; Aids to Scouting; Boy Scouts, a Suggestion; Boy Scout Scheme; Scouting for Boys; dan Girl Guiding. Di samping itu, ia menciptakan metode inovatif pelatihan prajurit yang kurang pengalaman lapangan. Peserta yang lulus dari pelatihan ini memperoleh lencana Fleur-de-Lys yang simbolnya digunakan sebagai lambang organsiasi pandu di kemudian hari. Selain itu, keberhasilan militernya yang paling menonjol adalah mempertahankan kota Mafeking dari serangan militer kaum Boer yang berkekuatan tiga kali lipat dalam perang Boer di Afrika Selatan.
Saat mempertahankan kota Mafeking inilah, Powell semakin memperhatikan kehidupan para anak dan remaja. Mereka tampak bosan bila hanya mengurung diri di dalam rumah. Powell, menrancang aktivitas outdoor bagi para anak dan remaja ini bahkan melibatkan mereka sebagai penolong dalam beberapa aktivitas militer.
Perhatian terhadap kehidupan anak dan remaja terus dibawanya ketika ia kembali ke Inggris. Tanpa ada kegiatan positif, generasi muda Inggris semakin kacau hidupnya. Impian Powell adalah agar para anak dan remaja bisa menyalurkan energi mereka ke dalam kegiatan outdoor yang positif sehingga mereka tidak salah arah.
Impiannya ini dikerjakannya dengan sangat tekun dan bersemangat. Ketekunan dan semangat yang luar biasa mengejar impian mulia ini membuat banyak orang tertular dan dengan senang hati bekerja sama membantu Powell mewujudkan impiannya. Mungkin akibat ketekunan yang berlebihan ini, Powell terlambat menikah. Ia baru menikah dengan Olave St. Clair Soames pada usia 54 tahun. Keberhasilannya memelopori dan membesarkan gerakan pramuka membuatnya memperoleh hadiah prestisius: Carnegie Prize. Ia wafat pada usia tua (83 tahun) di Paxtuu, Afrika.
Memiliki impian mulia, ketekunan dan semangat mewujudkan impian itu, mendayagunakan keterampilan yang dimiliki, serta bekerja sama dengan banyak orang, tampaknya faktor-faktor itulah yang menjadi kunci keberhasilan Lord Baden-Powell yang layak ditiru oleh pembaca ManDiri.
MENGUBAH DUNIA MELALUI GENERASI MUDA
Sebagian besar dari kita tentu pernah mengikuti atau memiliki teman/kerabat yang pernah mengikuti kegiatan kepanduan (di Indonesia Pramuka). Kegiatan kepanduan sangat populer dan dipandang positif di seluruh dunia. Puluhan juta anak dan remaja di seluruh dunia menjadi anggota pandu. Neil Armstrong, astronot kondang, adalah alumnus dari kegiatan kepanduan.
Sejarah kepanduan telah berlangsung lebih dari satu abad, dimulai pada peralihan abad 19-20. Pelopornya tidak lain adalah Bapak Pandu sedunia, Lord Baden-Powell. Kecintaan Powell terhadap aktivitas luar ruang terbentuk sejak kecil. Dilahirkan tanggal 2 Februari 1857, Robert Baden-Powell merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara (sepuluh bila tiga orang saudaranya yang meninggal ketika bayi dihitung). Masa kecilnya dihabiskan dengan banyak bermain di hutan kecil di samping sekolahnya. Powell terkenal sebagai anak yang serba bisa. Selain keterampilannya pada aktivitas outdoor, Powell juga piawai dalam hal melukis, melawak, menyanyi, dan menjadi aktor drama. Tetapi, Powell memang pada dasarnya jauh lebih suka aktivitas outdoor ketimbang belajar dalam kelas. Ia akhirnya gagal masuk perguruan tinggi bergengsi Universitas Oxford, dan sebaliknya berhasil cemerlang masuk dalam jajaran militer.
Kariernya dalam dunia militer melejit pesat. Ia melanglang buana ke banyak negeri dan mengasah keterampilan mengintai dan mencari jalan. Pengetahuannya di bidang tersebut dituangkannya dalam beberapa buku terlaris seperti Reconaissance and Scouting; Aids to Scouting; Boy Scouts, a Suggestion; Boy Scout Scheme; Scouting for Boys; dan Girl Guiding. Di samping itu, ia menciptakan metode inovatif pelatihan prajurit yang kurang pengalaman lapangan. Peserta yang lulus dari pelatihan ini memperoleh lencana Fleur-de-Lys yang simbolnya digunakan sebagai lambang organsiasi pandu di kemudian hari. Selain itu, keberhasilan militernya yang paling menonjol adalah mempertahankan kota Mafeking dari serangan militer kaum Boer yang berkekuatan tiga kali lipat dalam perang Boer di Afrika Selatan.
Saat mempertahankan kota Mafeking inilah, Powell semakin memperhatikan kehidupan para anak dan remaja. Mereka tampak bosan bila hanya mengurung diri di dalam rumah. Powell, menrancang aktivitas outdoor bagi para anak dan remaja ini bahkan melibatkan mereka sebagai penolong dalam beberapa aktivitas militer.
Perhatian terhadap kehidupan anak dan remaja terus dibawanya ketika ia kembali ke Inggris. Tanpa ada kegiatan positif, generasi muda Inggris semakin kacau hidupnya. Impian Powell adalah agar para anak dan remaja bisa menyalurkan energi mereka ke dalam kegiatan outdoor yang positif sehingga mereka tidak salah arah.
Impiannya ini dikerjakannya dengan sangat tekun dan bersemangat. Ketekunan dan semangat yang luar biasa mengejar impian mulia ini membuat banyak orang tertular dan dengan senang hati bekerja sama membantu Powell mewujudkan impiannya. Mungkin akibat ketekunan yang berlebihan ini, Powell terlambat menikah. Ia baru menikah dengan Olave St. Clair Soames pada usia 54 tahun. Keberhasilannya memelopori dan membesarkan gerakan pramuka membuatnya memperoleh hadiah prestisius: Carnegie Prize. Ia wafat pada usia tua (83 tahun) di Paxtuu, Afrika.
Memiliki impian mulia, ketekunan dan semangat mewujudkan impian itu, mendayagunakan keterampilan yang dimiliki, serta bekerja sama dengan banyak orang, tampaknya faktor-faktor itulah yang menjadi kunci keberhasilan Lord Baden-Powell yang layak ditiru oleh pembaca ManDiri.
Pengertian Kepramukaan
Kepramukaan pada hakekatnya adalah : Suatu proses pendidikan dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan pemuda di bawah tanggungjawab orang dewasa; Yang dilaksanakan di luar lingkungan pendidikan sekolah dan di luar lingkungan pendidikan keluarga dan di alam terbuka; Dengan menggunakan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan.
Sifat Kepramukaan
Berdasarkan resolusi Konferensi Kepramukaan Sedunia tahun 1924 di Kopenhagen, Denmark, maka kepramukaan mempunyai tiga sifat atau ciri khas, yaitu :
- Nasional, yang berarti suatu organisasi yang menyelenggarakan kepramukaan di suatu negara haruslah menyesuaikan pendidikannya itu dengan keadaan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.
- Internasional, yang berarti bahwa organisasi kepramukaan di negara manapun di dunia ini harus membina dan mengembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan antara sesama Pramuka dan sesama manusia, tanpa membedakan kepercayaan/agama, golongan, tingkat, suku dan bangsa.
- Universal, yang berarti bahwa kepramukaan dapat dipergunakan di mana saja untuk mendidik anak-anak dari bangsa apa saja, yang dalam pelaksanaan pendidikannya selalu menggunakan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan.
Fungsi Kepramukaan
Dengan landasan uraian di atas, maka kepramukaan mempunyai fungsi sebagai :
- Kegiatan menarik bagi anak atau pemuda
Kegiatan menarik di sini dimaksudkan kegiatan yang menyenangkan dan mengandung pendidikan. Karena itu permainan harus mempunyai tujuan dan aturan permainan, jadi bukan sekadar main-main, yang hanya bersifat hiburan saja, tanpa aturan dan tujuan, dan tidak bernilai pendidikan. Karena itu lebih tepat kita sebut saja kegiatan menarik.
- Pengabdian bagi orang dewasa
Bagi orang dewasa kepramukaan bukan lagi permainan, tetapi suatu tugas yang memerlukan keikhlasan, kerelaan, dan pengabdian. Orang dewasa ini mempunyai kewajiban untuk secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya pencapaian tujuan organisasi.
- Alat bagi masyarakat dan organisasi
Kepramukaan merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, dan juga alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan organisasinya. Jadi kegiatan kepramukaan yang diberikan sebagai latihan berkala dalam satuan pramuka itu sekedar alat saja, dan bukan tujuan pendidikannya.
Istilah Gerakan Pramuka dan Pramuka
Gerakan Pramuka adalah nama organisasi yang merupakan wadah proses pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan di Indonesia.
Sebelum tahun 1961 di Indonesia pernah berdiri berbagai macam organisasi kepramukaan seperti : Pandu Rakyat Indonesia, Kepanduan Bangsa Indonesia, Hizbul Waton dan lain-lain. Sekarang hanya satu organisasi yang disebut Gerakan Pramuka.
Pramuka merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang berusia antara 7 sampai dengan 25 tahun, dan berkedudukan sebagai peserta didik, yaitu sebagai Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega. Kelompok anggota yang lain yaitu Pembina Pramuka, Andalan, Pleatih, Pamong Saka, Staff Kwartir dan Majelis Pembimbing.
Disamping itu kata Pramuka juga dapat diartikan praja muda karana, yaitu rakyat muda yang suka berkarya.
Tujuan Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka bertujuan mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan Prinsip-Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia, agar supaya :
Menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta :
- tinggi mental - moral - budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya.
- tinggi kecerdasan dan keterampilannya.
- kuat dan sehat fisiknya.
Menjadi warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia; sehingga menjadi angota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelanggarakan pembangunan bangsa dan negara.
Tujuan tersebut merupakan cita-cita Gerakan Pramuka. Karena itu semua kegiatan yang dilakukan oleh semua unsur dalam Gerakan Pramuka harus mengarah pada pencapain tujuan tersebut.
Tugas Pokok
Tugas pokok Gerakan Pramuka adalah menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi anak dan pemuda Indonesia, menuju ke tujuan Gerakan Pramuka, sehingga dapat membentuk tenaga kader pembangunan yang berjiwa Pancasila dan sanggup serta mampu menyelenggarakan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam melaksanakan pendidikan kepramukaan tersebut Gerakan Pramuka selalu memperhatikan keadaan, kemampuan, kebutuhan dan minat peserta didiknya.
Gerakan Pramuka berkewajiban melaksanakan Eka Prasetya Pancakarsa.
Karena kepramukaan bersifat nasional, maka gerak dan kegiatan Gerakan Pramuka disesuaikan dengan kepentingan nasional. Kepentingan nasional bangsa Indonesia ini tercantum dalam Garis Besar Haluan Negara, yang merupakan Ketetapan MPR. Gerakan Pramuka dalam iktu membantu pelaksanaan GBHN tersebut selalu mengikuti kebijakan Pemerintah dan segala peraturan perundang-undangannya.
Gerakan Pramuka hidup dan bergerak di tengah masyarakat dan berusaha membentuk tenaga kader pembangunan yang berguna bagi masyarakat. Karenanya Gerakan Pramuka harus memperhatikan pula keadaan, kemampuan, adat dan harapan masyarakat, termasuk orang tua Pramuka, sehingga Gerakan Pramuka terutama pada satuan-satuannya dapat menyiapkan tenaga Pramuka sesuai dengan apa yang diharapkan orang tua Pramuka dan masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaan kegiatannya, Gerakan Pramuka menggunakan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan, sistim among dan berbagai metoda penyajian lainnya. Para Pramuka mendapat pembinaan dalam satuan-gerak sesuai dengan usia dan bidang kegiatannya dengan memgikuti ketentuan pada Syarat Kecakapan Umum, Syarat Lecakapan Khusus dan Syarat Pramuka Garuda.
Sasaran yang ingin dicapai dengan pendidikan kepramukaan itu ialah :
- kuat keyakinan beragamanya.
- tinggi mental dan moralnya, serta berjiwa Pancasila.
- sehat, segar dan kuat jasmaninya.
- cerdas, segar dan kuat jasmaninya.
- berpengetahuan luas dan dalam.
- berjiwa kepemimpinandan patriot.
- berkesadaran nasional dan peka terhadap perubahan lingkungan.
- berpengalaman banyak.
Kiasan dasar
Kiasan dasar adalah alam pikiran yang mengandung kiasan (gambaran) sesuatu yang disanjung dan didambakan. Yang menjadi kiasan dasar Gerakan Pramuka adalah romantika perjuangan besar bangsa Indonesia. Oleh karena itu, maka kiasan ini mengambil hal-hal yang ada hubungannya dengan perjuangan bangsa. Baik pada masa lalu, maupun perjuangan pembangunan pada masa sekarang.
Berhubung dengan kiasan itu, maka kata-kata penting dalam urut-urutan perjuangan bangsa Indonesia sejak masa lampau sampai sekarang dipergunakan istilah-istilah di dalam Gerakan Pramuka, yaitu anak didik yang umur 7 - 10 tahun disebut Siaga, yang umur 11 - 15 tahun disebut Penggalang, yang umur 16 - 20 tahun disebut Penegak dan umur 21 - 25 tahun disebut Pandega. Orang dewasa yang memimpin Pramuka disebut Pembina, anggota Kwartir disebut Andalan.
Sesuai dengan tingkat kecakapan yang dicapai oleh seorang Pramuka, maka istilah-istilah tersebut di atas ditambah istilah belakang : Siaga Mula, Siaga Bantu, Siaga Tata, Penggalang Ramu, Penggalang Rakit, Penggalang Terap, Penegak Bantara, Penegak Laksana (tentang Pandega hanya ada satu tingkat).
Satuan kecil untuk Siaga disebut Barung (tempat penjaga ramuan bangunan). Satuan yang terdiri dari beberapa Barung disebut Perindukan (tempat dimana anak cucu berkumpul). Satuan untuk Penggalang disebut Regu (gardu, pangkalan untuk meronda). Satuan yang terdiri dari beberapa regu disebut Pasukan, (tempat suku berkumpul. Satuan kecil untuk Penegak disebut Sangga (rumah kecil untuk orang yang bertanggung jawab menggarap sawah/ladang). Satuan kecil untuk Pandega disebut Racana (pondasi, alas tiang, umpak atap). Satu perindukan Siaga, satu Pasukan Penggalang, satu Ambalan Penegak dan satu Racana Pandega, bersama merupakan satu Gugusdepan (kombinasi satuan-satuan yang bertugas di depan, terdepan, yang langsung menghadapi tantangan).
Prinsip Dasar dan Metodik Kepramukaan
Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan merupakan prinsip yang digunakan dalam pendidikan kepramukaan, yang membedakannya dengan gerakan pendidikan lainnya.
Baden-Powell sebagai penemu pendidikan kepramukaan telah menyusun prinsip-Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan dan menggunakannya untuk membina generasi muda melalui pendidikan kepramukaan. Beberapa prinsip itu didasarkan pada kegiatan anak atau remaja sehari-hari.
Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan itu harus diterapkan secara menyeluruh. Bila sebagian dari prinsip itu dihilangkan, maka organisasi itu bukan lagi gerakan pendidikan kepramukaan.
Dalam Anggaran dasar Gerakan Pramuka dinyatakan bahwa Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan ialah :
Prinsip Dasar
Prinsip Dasar Kepramukaan adalah :
- iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
- peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya;
- peduli terhadap diri pribadinya;
- taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.
Prinsip Dasar Kepramukaan sebagai norma hidup seorang anggota Gerakan Pramuka, ditanamkan dan ditumbuhkembangkan melalui proses penghayatan oleh dan untuk diri pribadinya, bagi pesertadidik dibantu oleh pembina, sehingga pelaksanaan dan pengamalannya dilakukan dengan penuh kesadaran, kemandirian, kepedulian, tanggungjawab serta keterikatan moral, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.
Menerima secara sukarela Prinsip Dasar Kepramukaan adalah hakekat pramuka, baik sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, makhluk sosial, maupun individu yang menyadari bahwa diri pribadinya :
mentaati perintah Tuhan Yang Maha Esa dan beribadah sesuai tata-cara dari agama yang dipeluknya serta menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.
mengakui bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup bersama dengan mahkluk lain yang juga diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, khususnya sesama manusia yang telah diberi derajat yang lebih mulia dari mahkluk lainnya. Dalam kehidupan bersama didasari oleh prinsip peri kemanusiaan yang adil dan beradab.
diberi tempat untuk hidup dan berkembang oleh Tuhan Yang Maha Esa di bumi yang berunsurkan tanah, air dan udara yang merupakan tempat bagi manusia untuk hidup bersama, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan rukun dan damai.
memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sosial serta memperkokoh persatuan, menerima kebhinnekaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
memerlukan lingkungan hidup yang bersih dan sehat agar dapat menunjang/ memberikan kenyamanan dan kesejahteraan hidupnya. Karena itu manusia wajib peduli terhadap lingkungan hidupnya dengan cara menjaga, memelihara dan menciptakan lingkungan hidup yang baik.
Metode Kepramukaan
Metode Kepramukaan merupakan cara belajar progresif melalui :
- pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
- belajar sambil melakukan;
- sistem berkelompok;
- kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani pesertadidik;
- kegiatan di alam terbuka;
- sistem tanda kecakapan;
- sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;
- sistem among.
Metode Kepramukaan pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari Prinsip Dasar Kepramukaan. Keterkaitan itu terletak pada pelaksanaan Kode Kehormatan.
Metode Kepramukaan sebagai suatu sistem, terdiri atas unsur-unsur yang merupakan subsistem terpadu dan terkait, yang tiap unsurnya mempunyai fungsi pendidikan yang spesifik dan saling memperkuat serta menunjang tercapainya tujuan.
Kode Kehormatan
Kode Kehormatan Pramuka yang terdiri atas Janji yang disebut Satya dan Ketentuan Moral yang disebut Darma merupakan satu unsur dari Metode Kepramukaan dan alat pelaksanaan Prinsip Dasar Kepramukaan.
Kode Kehormatan Pramuka dalam bentuk Janji yang disebut Satya adalah :
janji yang diucapkan secara sukarela oleh seorang calon anggota Gerakan Pramuka setelah memenuhi persyaratan keanggotaan;
tindakan pribadi untuk mengikat diri secara sukarela menerapkan dan mengamalkan janji;
titik tolak memasuki proses pendidikan sendiri guna mengembangkan visi, intelektualitas, emosi, sosial dan spiritual, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat lingkungannya.
Kode Kehormatan Pramuka dalam bentuk Ketentuan Moral yang disebut Darma adalah :
alat proses pendidikan sendiri yang progresif untuk mengembangkan budi pekerti luhur.
upaya memberi pengalaman praktis yang mendorong pesertadidik menemukan, menghayati, mematuhi sistem nilai yang dimiliki masyarakat dimana ia hidup dan menjadi anggota.
landasan gerak Gerakan Pramuka untuk mencapai tujuan pendidikan melalui kepramukaan yang kegiatannya mendorong Pramuka manunggal dengan masyarakat, bersikap demokratis, saling menghormati, memiliki rasa kebersamaan dan gotong royong;
kode Etik Organisasi dan satuan Pramuka, dengan landasan Ketentuan Moral disusun dan ditetapkan bersama aturan yang mengatur hak dan kewajiban anggota, pembagian tanggungjawab dan penentuan putusan.
Kode Kehormatan Pramuka bagi pesertadidik disesuaikan dengan golongan usia dan perkembangan rohani dan jasmani pesertadidik, yaitu :
Kode Kehormatan bagi Pramuka Siaga terdiri atas :
Janji yang disebut Dwisatya selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Dwisatya Pramuka Siaga
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengikuti tatakrama keluarga.
setiap hari berbuat kebajikan.
Ketentuan moral yang disebut Dwidarma selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Dwidarma Pramuka Siaga
Siaga berbakti kepada ayah bundanya.
Siaga berani dan tidak putus asa.
Kode kehormatan bagi Pramuka Penggalang terdiri atas :
Janji yang disebut Trisatya selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Trisatya Pramuka Penggalang
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
- menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila
- menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat
- menepati Dasadarma.
Ketentuan moral yang disebut Dasadarma selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Dasadarma
Kepramukaan pada hakekatnya adalah : Suatu proses pendidikan dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan pemuda di bawah tanggungjawab orang dewasa; Yang dilaksanakan di luar lingkungan pendidikan sekolah dan di luar lingkungan pendidikan keluarga dan di alam terbuka; Dengan menggunakan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan.
Sifat Kepramukaan
Berdasarkan resolusi Konferensi Kepramukaan Sedunia tahun 1924 di Kopenhagen, Denmark, maka kepramukaan mempunyai tiga sifat atau ciri khas, yaitu :
- Nasional, yang berarti suatu organisasi yang menyelenggarakan kepramukaan di suatu negara haruslah menyesuaikan pendidikannya itu dengan keadaan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.
- Internasional, yang berarti bahwa organisasi kepramukaan di negara manapun di dunia ini harus membina dan mengembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan antara sesama Pramuka dan sesama manusia, tanpa membedakan kepercayaan/agama, golongan, tingkat, suku dan bangsa.
- Universal, yang berarti bahwa kepramukaan dapat dipergunakan di mana saja untuk mendidik anak-anak dari bangsa apa saja, yang dalam pelaksanaan pendidikannya selalu menggunakan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan.
Fungsi Kepramukaan
Dengan landasan uraian di atas, maka kepramukaan mempunyai fungsi sebagai :
- Kegiatan menarik bagi anak atau pemuda
Kegiatan menarik di sini dimaksudkan kegiatan yang menyenangkan dan mengandung pendidikan. Karena itu permainan harus mempunyai tujuan dan aturan permainan, jadi bukan sekadar main-main, yang hanya bersifat hiburan saja, tanpa aturan dan tujuan, dan tidak bernilai pendidikan. Karena itu lebih tepat kita sebut saja kegiatan menarik.
- Pengabdian bagi orang dewasa
Bagi orang dewasa kepramukaan bukan lagi permainan, tetapi suatu tugas yang memerlukan keikhlasan, kerelaan, dan pengabdian. Orang dewasa ini mempunyai kewajiban untuk secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya pencapaian tujuan organisasi.
- Alat bagi masyarakat dan organisasi
Kepramukaan merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, dan juga alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan organisasinya. Jadi kegiatan kepramukaan yang diberikan sebagai latihan berkala dalam satuan pramuka itu sekedar alat saja, dan bukan tujuan pendidikannya.
Istilah Gerakan Pramuka dan Pramuka
Gerakan Pramuka adalah nama organisasi yang merupakan wadah proses pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan di Indonesia.
Sebelum tahun 1961 di Indonesia pernah berdiri berbagai macam organisasi kepramukaan seperti : Pandu Rakyat Indonesia, Kepanduan Bangsa Indonesia, Hizbul Waton dan lain-lain. Sekarang hanya satu organisasi yang disebut Gerakan Pramuka.
Pramuka merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang berusia antara 7 sampai dengan 25 tahun, dan berkedudukan sebagai peserta didik, yaitu sebagai Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega. Kelompok anggota yang lain yaitu Pembina Pramuka, Andalan, Pleatih, Pamong Saka, Staff Kwartir dan Majelis Pembimbing.
Disamping itu kata Pramuka juga dapat diartikan praja muda karana, yaitu rakyat muda yang suka berkarya.
Tujuan Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka bertujuan mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan Prinsip-Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia, agar supaya :
Menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta :
- tinggi mental - moral - budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya.
- tinggi kecerdasan dan keterampilannya.
- kuat dan sehat fisiknya.
Menjadi warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia; sehingga menjadi angota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelanggarakan pembangunan bangsa dan negara.
Tujuan tersebut merupakan cita-cita Gerakan Pramuka. Karena itu semua kegiatan yang dilakukan oleh semua unsur dalam Gerakan Pramuka harus mengarah pada pencapain tujuan tersebut.
Tugas Pokok
Tugas pokok Gerakan Pramuka adalah menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi anak dan pemuda Indonesia, menuju ke tujuan Gerakan Pramuka, sehingga dapat membentuk tenaga kader pembangunan yang berjiwa Pancasila dan sanggup serta mampu menyelenggarakan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam melaksanakan pendidikan kepramukaan tersebut Gerakan Pramuka selalu memperhatikan keadaan, kemampuan, kebutuhan dan minat peserta didiknya.
Gerakan Pramuka berkewajiban melaksanakan Eka Prasetya Pancakarsa.
Karena kepramukaan bersifat nasional, maka gerak dan kegiatan Gerakan Pramuka disesuaikan dengan kepentingan nasional. Kepentingan nasional bangsa Indonesia ini tercantum dalam Garis Besar Haluan Negara, yang merupakan Ketetapan MPR. Gerakan Pramuka dalam iktu membantu pelaksanaan GBHN tersebut selalu mengikuti kebijakan Pemerintah dan segala peraturan perundang-undangannya.
Gerakan Pramuka hidup dan bergerak di tengah masyarakat dan berusaha membentuk tenaga kader pembangunan yang berguna bagi masyarakat. Karenanya Gerakan Pramuka harus memperhatikan pula keadaan, kemampuan, adat dan harapan masyarakat, termasuk orang tua Pramuka, sehingga Gerakan Pramuka terutama pada satuan-satuannya dapat menyiapkan tenaga Pramuka sesuai dengan apa yang diharapkan orang tua Pramuka dan masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaan kegiatannya, Gerakan Pramuka menggunakan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan, sistim among dan berbagai metoda penyajian lainnya. Para Pramuka mendapat pembinaan dalam satuan-gerak sesuai dengan usia dan bidang kegiatannya dengan memgikuti ketentuan pada Syarat Kecakapan Umum, Syarat Lecakapan Khusus dan Syarat Pramuka Garuda.
Sasaran yang ingin dicapai dengan pendidikan kepramukaan itu ialah :
- kuat keyakinan beragamanya.
- tinggi mental dan moralnya, serta berjiwa Pancasila.
- sehat, segar dan kuat jasmaninya.
- cerdas, segar dan kuat jasmaninya.
- berpengetahuan luas dan dalam.
- berjiwa kepemimpinandan patriot.
- berkesadaran nasional dan peka terhadap perubahan lingkungan.
- berpengalaman banyak.
Kiasan dasar
Kiasan dasar adalah alam pikiran yang mengandung kiasan (gambaran) sesuatu yang disanjung dan didambakan. Yang menjadi kiasan dasar Gerakan Pramuka adalah romantika perjuangan besar bangsa Indonesia. Oleh karena itu, maka kiasan ini mengambil hal-hal yang ada hubungannya dengan perjuangan bangsa. Baik pada masa lalu, maupun perjuangan pembangunan pada masa sekarang.
Berhubung dengan kiasan itu, maka kata-kata penting dalam urut-urutan perjuangan bangsa Indonesia sejak masa lampau sampai sekarang dipergunakan istilah-istilah di dalam Gerakan Pramuka, yaitu anak didik yang umur 7 - 10 tahun disebut Siaga, yang umur 11 - 15 tahun disebut Penggalang, yang umur 16 - 20 tahun disebut Penegak dan umur 21 - 25 tahun disebut Pandega. Orang dewasa yang memimpin Pramuka disebut Pembina, anggota Kwartir disebut Andalan.
Sesuai dengan tingkat kecakapan yang dicapai oleh seorang Pramuka, maka istilah-istilah tersebut di atas ditambah istilah belakang : Siaga Mula, Siaga Bantu, Siaga Tata, Penggalang Ramu, Penggalang Rakit, Penggalang Terap, Penegak Bantara, Penegak Laksana (tentang Pandega hanya ada satu tingkat).
Satuan kecil untuk Siaga disebut Barung (tempat penjaga ramuan bangunan). Satuan yang terdiri dari beberapa Barung disebut Perindukan (tempat dimana anak cucu berkumpul). Satuan untuk Penggalang disebut Regu (gardu, pangkalan untuk meronda). Satuan yang terdiri dari beberapa regu disebut Pasukan, (tempat suku berkumpul. Satuan kecil untuk Penegak disebut Sangga (rumah kecil untuk orang yang bertanggung jawab menggarap sawah/ladang). Satuan kecil untuk Pandega disebut Racana (pondasi, alas tiang, umpak atap). Satu perindukan Siaga, satu Pasukan Penggalang, satu Ambalan Penegak dan satu Racana Pandega, bersama merupakan satu Gugusdepan (kombinasi satuan-satuan yang bertugas di depan, terdepan, yang langsung menghadapi tantangan).
Prinsip Dasar dan Metodik Kepramukaan
Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan merupakan prinsip yang digunakan dalam pendidikan kepramukaan, yang membedakannya dengan gerakan pendidikan lainnya.
Baden-Powell sebagai penemu pendidikan kepramukaan telah menyusun prinsip-Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan dan menggunakannya untuk membina generasi muda melalui pendidikan kepramukaan. Beberapa prinsip itu didasarkan pada kegiatan anak atau remaja sehari-hari.
Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan itu harus diterapkan secara menyeluruh. Bila sebagian dari prinsip itu dihilangkan, maka organisasi itu bukan lagi gerakan pendidikan kepramukaan.
Dalam Anggaran dasar Gerakan Pramuka dinyatakan bahwa Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan ialah :
Prinsip Dasar
Prinsip Dasar Kepramukaan adalah :
- iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
- peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya;
- peduli terhadap diri pribadinya;
- taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.
Prinsip Dasar Kepramukaan sebagai norma hidup seorang anggota Gerakan Pramuka, ditanamkan dan ditumbuhkembangkan melalui proses penghayatan oleh dan untuk diri pribadinya, bagi pesertadidik dibantu oleh pembina, sehingga pelaksanaan dan pengamalannya dilakukan dengan penuh kesadaran, kemandirian, kepedulian, tanggungjawab serta keterikatan moral, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.
Menerima secara sukarela Prinsip Dasar Kepramukaan adalah hakekat pramuka, baik sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, makhluk sosial, maupun individu yang menyadari bahwa diri pribadinya :
mentaati perintah Tuhan Yang Maha Esa dan beribadah sesuai tata-cara dari agama yang dipeluknya serta menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.
mengakui bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup bersama dengan mahkluk lain yang juga diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, khususnya sesama manusia yang telah diberi derajat yang lebih mulia dari mahkluk lainnya. Dalam kehidupan bersama didasari oleh prinsip peri kemanusiaan yang adil dan beradab.
diberi tempat untuk hidup dan berkembang oleh Tuhan Yang Maha Esa di bumi yang berunsurkan tanah, air dan udara yang merupakan tempat bagi manusia untuk hidup bersama, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan rukun dan damai.
memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sosial serta memperkokoh persatuan, menerima kebhinnekaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
memerlukan lingkungan hidup yang bersih dan sehat agar dapat menunjang/ memberikan kenyamanan dan kesejahteraan hidupnya. Karena itu manusia wajib peduli terhadap lingkungan hidupnya dengan cara menjaga, memelihara dan menciptakan lingkungan hidup yang baik.
Metode Kepramukaan
Metode Kepramukaan merupakan cara belajar progresif melalui :
- pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
- belajar sambil melakukan;
- sistem berkelompok;
- kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani pesertadidik;
- kegiatan di alam terbuka;
- sistem tanda kecakapan;
- sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;
- sistem among.
Metode Kepramukaan pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari Prinsip Dasar Kepramukaan. Keterkaitan itu terletak pada pelaksanaan Kode Kehormatan.
Metode Kepramukaan sebagai suatu sistem, terdiri atas unsur-unsur yang merupakan subsistem terpadu dan terkait, yang tiap unsurnya mempunyai fungsi pendidikan yang spesifik dan saling memperkuat serta menunjang tercapainya tujuan.
Kode Kehormatan
Kode Kehormatan Pramuka yang terdiri atas Janji yang disebut Satya dan Ketentuan Moral yang disebut Darma merupakan satu unsur dari Metode Kepramukaan dan alat pelaksanaan Prinsip Dasar Kepramukaan.
Kode Kehormatan Pramuka dalam bentuk Janji yang disebut Satya adalah :
janji yang diucapkan secara sukarela oleh seorang calon anggota Gerakan Pramuka setelah memenuhi persyaratan keanggotaan;
tindakan pribadi untuk mengikat diri secara sukarela menerapkan dan mengamalkan janji;
titik tolak memasuki proses pendidikan sendiri guna mengembangkan visi, intelektualitas, emosi, sosial dan spiritual, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat lingkungannya.
Kode Kehormatan Pramuka dalam bentuk Ketentuan Moral yang disebut Darma adalah :
alat proses pendidikan sendiri yang progresif untuk mengembangkan budi pekerti luhur.
upaya memberi pengalaman praktis yang mendorong pesertadidik menemukan, menghayati, mematuhi sistem nilai yang dimiliki masyarakat dimana ia hidup dan menjadi anggota.
landasan gerak Gerakan Pramuka untuk mencapai tujuan pendidikan melalui kepramukaan yang kegiatannya mendorong Pramuka manunggal dengan masyarakat, bersikap demokratis, saling menghormati, memiliki rasa kebersamaan dan gotong royong;
kode Etik Organisasi dan satuan Pramuka, dengan landasan Ketentuan Moral disusun dan ditetapkan bersama aturan yang mengatur hak dan kewajiban anggota, pembagian tanggungjawab dan penentuan putusan.
Kode Kehormatan Pramuka bagi pesertadidik disesuaikan dengan golongan usia dan perkembangan rohani dan jasmani pesertadidik, yaitu :
Kode Kehormatan bagi Pramuka Siaga terdiri atas :
Janji yang disebut Dwisatya selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Dwisatya Pramuka Siaga
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengikuti tatakrama keluarga.
setiap hari berbuat kebajikan.
Ketentuan moral yang disebut Dwidarma selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Dwidarma Pramuka Siaga
Siaga berbakti kepada ayah bundanya.
Siaga berani dan tidak putus asa.
Kode kehormatan bagi Pramuka Penggalang terdiri atas :
Janji yang disebut Trisatya selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Trisatya Pramuka Penggalang
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
- menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila
- menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat
- menepati Dasadarma.
Ketentuan moral yang disebut Dasadarma selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Dasadarma
TULISAN BADEN POWELL
Beberapa Tulisan Baden Powell Tentang Kepanduan
“Scouting is not an abstruse or difficult science; rather it is a jolly game if you take it in the right light. At the same time it is educative, and (like Mercy) it is apt to benefit him that give as well as him that receive.
The term “scouting” has come to mean a system of training in citizenship, through games, for boys or girls.
The girls are important people, because when the mothers of the nation are good citizens and women of character, they will she to it that their son are not deficient in these point. As things are, the training is needed for both sexes, and is imparted through the Boy Scout and Girl Guides (Girl Scout) Movements. The principles are the same for both. It is only in the details that they vary”.
Kepanduan bukanlah suatu ilmu yang sukar atau mendalam, lebih baik diartikan sebagai permainan yang menarik, bila anda tempatkan pada kedudukan yang benar. Sekaligus permainan itu bersifat pendidikan, dan (seperti Mercy = kemurahan hati) ia condong memberi manfaat bagi yang memberi maupun yang menerima.
Kepanduan harus diartikan sebagai suatu sistem latihan kewarganegaraan melalui permainan untuk anak-anak putera dan puteri. Anak puteri adalah rakyat yang penting, karena bila ibu-ibu suatu bangsa itu merupakan warganegara yang baik, serta merupakan ibu-ibu dengan tabiat yang teguh, maka mereka akan mengusahakan agar anak-anaknya juga mengikuti jejak ibunya. Latihan itu diperlukan untuk kefua jenis golongan gerakan kepanduan putera dan Gerakan kepanduan puteri. Prinsip-prinsipnya sama untuk keduanya. Hanya penjabarannya yang beraneka ragam.
“Scouting is not science to be solemnly studied, nor is it a collection of doctrine and texts. No! It is a jolly game in the out of doors, where boymen and boys can go adventuring together as leader and younger brothers picking up health and happiness, handicraft and helpfulness”
Kepanduan bukanlah suatu ilmu untuk dipelajari secara tekun, bukan pula merupakan suatu kumpulan ajaran atau bahan pelajaran. Bukan! Kepanduan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, tempat “boymen” (orang dewasa berjiwa muda) dan anak-anak dapat mengadakan pengembaraan bersama sebagai kakak dan adik, membina kesematan dan mendapatkan kebahagiaan, keterampilan, dan mengabdikan diri bagi sesamanya.
“The Scoutmaster As a preliminary word of comfort to intending Scoutmaster, I should like to contradict the usual misconception that, to be a successful Scoutmaster, a man must be an Admirable Crichton – a know – all. Not a bit of it.
He has simply to be a boy-men, that is:
a. He must have the boy spirit in him; and must be able to place himself on a right plane with his boys as a first step.
b. He must realize needs, outlooks and desires of different ages of boys life
c. He must deal with the individual boy rather than with the mass.
d. He than need to promote a corporate spirit among his individuals to gain the best result”
Seorang Pembina
Sebagai awal kata kesenangan menjadi Pembina, saya menyangkal anggapan yang keliru bahwa menjadi seorang Pembina, seseorang harus hebat – perlu diketahui – semua. Tidak seketat itu.
Ia sederhana berjiwa muda (“boymen”) yaitu:
a. Ia harus memiliki jiwa dan semangat muda, ytang karenanya ia harus dapat menempatkan dirinya dalam alam fikiran peserta didik.
b. Ia harus mengerti dan menyadari kebutuhan peserta didik. Ia harus mengerti pula pandangan serta keinginan peserta didik, sesuai dengan tingkat usianya, dan sesuai pula dengan pertumbuhan jiwanya.
c. Ia harus lebih memperhatikan peserta didik secara pribadi/perorangan dari pada secara keseluruhan (masal)
d. Ia memiliki kemauan mengembangkan jiwa kesatuan, sehingga setiap pribadi peserta didik dapat berkembang dan mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
“Scouting is a Movement, not just an Organization”
Organisasi Kepanduan itu suatu Gerakan, bukan hanya sekedar Organisasi
Artinya:
1. Organisasi Kepramukaan itu harus melayani Kepramukaan, bukan sebaliknya
2. Organisasi Kepramukaan di semua tingkat itu perlu dan penting, asalkan disusun sedemikian rupa, dengan tujuan utama demi kepentingan peserta didik.
3. Suksesnya suatu kebijakan tergantung pada dua faktor, ialah:
a. mengerti benar apa itu Organisasi (fungsi, prinsip, tujuan), serta setiap individu dalam organisasi itu mengerti kedudukannya (dan peranannya dalam organisasi)
b. setiap anggota harus mematuhi peraturan dan ketentuan yang ditetapkan organisasi
“The aim of Scout Training is to improve the standard of our future citizenhood, especially in character and health, to replace self by service, to make the land individually efficient, morally and physically with the object of using that efficiency for service for fellowmen”
Maksud latihan kepanduan ialah memperbaiki mutu warga negara yang akan datang, khususnya dalam hal watak dan kesehatan, mengutamakan bakti dari pada kepentingan diri sendiri, membentuk kaum muda menjadi pribadi-pribadi yang berdayaguna, baik rohani maupun jasmaninya, dengan maksud agar daya guna itu dimanfaatkan bagi baktinya untuk sesame hidup.
“Let us therefore, in training our Scout, keep the higher aims in the forefront, not let ourselves become too absorbed in the steps. Don’t let the technical outweight the moral. Field efficiency, backwoodsmanship, camping, hiking, good-futures, jamboree comradeships are all means, not the end.
The end is character – character with a purpose. And that purpose, that the next generation be same in an insane world, and develop the higher realization of service, the active service of love and Duty to God and neighbor”
Oleh karena itu, marilah dalam melatih para Pandu kita, kita tempatkan tujuan utama pada garis terdepan, dan tidak membiarkan diri kita menjadi terlalu memikirkan langkah-langkahnya. Jangan memberi bobot latihan teknik lebih berat dari pembinaan watak. Kemahiran di lapangan, penjelajahan rimba, berkemah, pengembaraan, usaha mencapai masa depan yang baik, jambore persaudaraan, semuanya adalah Alat, bukan Tujuan.
Tujuan akhirnya adalah watak, - pembinaan watak dengan tujuan tertentu. Tujuan itu adalah bahwa generasi yang akan datang menjadi orang yang bijaksana di tengah dunia yang kurang bijaksana, dan mengembangkan perwujudan yang lebih tinggi dari baktinya, bakti yang aktif dari cinta dan kewajiban terhadap Tuhan dan sesame hidup.
“Then you will find that object of becoming an able and efficient Boy Scout is not merely to give you fun and adventure but that, like the backwoodsmen, explorers, and frontiersmen, who you are following, you will fitting yourself to help your country and to be of service to other people who may be in need to help. That best men are out to do”
Maka ternyata bahwa menjadi seorang Pandu yang cakap dan berdayaguna itu tidaklah hanya memberi padamu suatu kesenangan dan pengalaman yang hebat saja, tetapi seperti para penjelajah rimba, para perintis/pembuka jalan, dan pelopor yang kamu ikuti, kamupun harus menyiapkan dirimu untuk membantu negaramu, dan berguna bagi orang lain yang membutuhkan pertolongan. Itulah yang dikerjakan oleh orang-orang terbaik.
“We must keep the great aim ever before us and make our steps lead to it all the time. This aim is to make our race a nation of energetic, capable, workers, good citizens, whether for live in Britain or overseas, the best principle to his end is to get the boys to learn for themselves by giving them a curriculum which appeals to them, rather than by hammering it in to them in some form of dry-bones instructions. We have to remember that the mass of the boys are already tired with hours of school or workshop and our training should, therefore. Be in the form of recreation, and this should be out of doors as much as possible.
That is the object of our badges and games, our examples and standards.
The great aims means not only the practice of give-and-take with your own officers, but also with other organizations working to the same end.
In a big movement for a big object there is no room for little personal efforts; we have to sink minor ideas and link arms in a big “combine” to deal effectively with the whole .
We in the Boy Scout are players in the same team with the Boy’s Brigade, Church lands, YMCA, and Education Department, and others. Co-operation is the only way if we mean to win success”
Kita harus memelihara cita-cita yang luhur itu selalu ada di depan kita, dan langkah kita senantiasa menuju ke tercapainya cita-cita itu. Tujuan ini adalah untuk mengusahakan agar bangsa kita menjadi suatu bangsa yang penuh semangat, pekerja yang berkemampuan, warga negara yang baik, baik untuk hidup di Inggris maupun di luar negeri. Prinsip yang baik dalam hal; ini adalah membuat kaum muda belajar untuk diri mereka sendiri, dengan memberi mereka kurikulum yang menarik bagi mereka, daripada menggembleng mereka dengan instrksi-instruksi yang keras. Kita harus ingat bahwa kaum muda pada umumnya telah lelah dengan pelajaran di sekolah atau di lokakarya, dan latihan kita harus dalam bentuk hiburan (rekreasi) dan ini harus diusahakan sedapat-dapatnya dilakukan di alam bebas.
Itulah tujuan dari tanda kecakapan dan permainan kita, contoh dan norma kita.
Tujuan luhur itu bukan hanya pelaksanaan dari memberi dan menerima dengan anak buahmu sendiri, tetapi juga dengan organisasi lain yang bekerja untuk tujuan yang sama.
Di dalam organisasi besar dengan tujuan besar tidak ada tempat untuk usaha pribadi yang kecil, kita harus membuang gagasan yang sempit, dan bergandengan tangan dalam suatu “gabungan” yang besar, untuk menangani keseluruhannya secara efektif.
Dalam kepanduan kita adalah pemain dari satu tim bersama dengan Brigade Kaum Muda, Remaja Gereja, YMCA, Departemen Pendidikan, dan lain-lain. Kerjasama adalah satu-satunya jalan menuju keberhasilan.
“The different foreign countries, which have adopted Scouting for their boys are now forming a friendly alliance with us for mutual interchange of views, correspondence, and visits, and thereby to promote a closer feeling of sympathy between the rising generations. International peace an only be built on one foundation, and that is an international desire for peace on the part of the people themselves in such strength as guide their Governments”
Banyak Negara asing yang telah menerapkan kepanduan bagi kepentingan kaum mudanya, sekarang bekerja bersama kami, untuk saling mengunjungi, dan oleh karenanya tercipta perasaan simpati yang lebih akrab diantara generasi muda.
Perdamaian internasional hanya dapat terwujud di atas satu landasan, yaitu cita-cita internasioal untuk mencapai perdamaian di kalangan masjarakat itu sendiri, dan kekuatan yang demikian akan menjadi petunjuk bagi pemerintah masing-masing.
Dari Buku 3 dan Buku 5 KPD/KPL
Beberapa Tulisan Baden Powell Tentang Kepanduan
“Scouting is not an abstruse or difficult science; rather it is a jolly game if you take it in the right light. At the same time it is educative, and (like Mercy) it is apt to benefit him that give as well as him that receive.
The term “scouting” has come to mean a system of training in citizenship, through games, for boys or girls.
The girls are important people, because when the mothers of the nation are good citizens and women of character, they will she to it that their son are not deficient in these point. As things are, the training is needed for both sexes, and is imparted through the Boy Scout and Girl Guides (Girl Scout) Movements. The principles are the same for both. It is only in the details that they vary”.
Kepanduan bukanlah suatu ilmu yang sukar atau mendalam, lebih baik diartikan sebagai permainan yang menarik, bila anda tempatkan pada kedudukan yang benar. Sekaligus permainan itu bersifat pendidikan, dan (seperti Mercy = kemurahan hati) ia condong memberi manfaat bagi yang memberi maupun yang menerima.
Kepanduan harus diartikan sebagai suatu sistem latihan kewarganegaraan melalui permainan untuk anak-anak putera dan puteri. Anak puteri adalah rakyat yang penting, karena bila ibu-ibu suatu bangsa itu merupakan warganegara yang baik, serta merupakan ibu-ibu dengan tabiat yang teguh, maka mereka akan mengusahakan agar anak-anaknya juga mengikuti jejak ibunya. Latihan itu diperlukan untuk kefua jenis golongan gerakan kepanduan putera dan Gerakan kepanduan puteri. Prinsip-prinsipnya sama untuk keduanya. Hanya penjabarannya yang beraneka ragam.
“Scouting is not science to be solemnly studied, nor is it a collection of doctrine and texts. No! It is a jolly game in the out of doors, where boymen and boys can go adventuring together as leader and younger brothers picking up health and happiness, handicraft and helpfulness”
Kepanduan bukanlah suatu ilmu untuk dipelajari secara tekun, bukan pula merupakan suatu kumpulan ajaran atau bahan pelajaran. Bukan! Kepanduan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, tempat “boymen” (orang dewasa berjiwa muda) dan anak-anak dapat mengadakan pengembaraan bersama sebagai kakak dan adik, membina kesematan dan mendapatkan kebahagiaan, keterampilan, dan mengabdikan diri bagi sesamanya.
“The Scoutmaster As a preliminary word of comfort to intending Scoutmaster, I should like to contradict the usual misconception that, to be a successful Scoutmaster, a man must be an Admirable Crichton – a know – all. Not a bit of it.
He has simply to be a boy-men, that is:
a. He must have the boy spirit in him; and must be able to place himself on a right plane with his boys as a first step.
b. He must realize needs, outlooks and desires of different ages of boys life
c. He must deal with the individual boy rather than with the mass.
d. He than need to promote a corporate spirit among his individuals to gain the best result”
Seorang Pembina
Sebagai awal kata kesenangan menjadi Pembina, saya menyangkal anggapan yang keliru bahwa menjadi seorang Pembina, seseorang harus hebat – perlu diketahui – semua. Tidak seketat itu.
Ia sederhana berjiwa muda (“boymen”) yaitu:
a. Ia harus memiliki jiwa dan semangat muda, ytang karenanya ia harus dapat menempatkan dirinya dalam alam fikiran peserta didik.
b. Ia harus mengerti dan menyadari kebutuhan peserta didik. Ia harus mengerti pula pandangan serta keinginan peserta didik, sesuai dengan tingkat usianya, dan sesuai pula dengan pertumbuhan jiwanya.
c. Ia harus lebih memperhatikan peserta didik secara pribadi/perorangan dari pada secara keseluruhan (masal)
d. Ia memiliki kemauan mengembangkan jiwa kesatuan, sehingga setiap pribadi peserta didik dapat berkembang dan mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
“Scouting is a Movement, not just an Organization”
Organisasi Kepanduan itu suatu Gerakan, bukan hanya sekedar Organisasi
Artinya:
1. Organisasi Kepramukaan itu harus melayani Kepramukaan, bukan sebaliknya
2. Organisasi Kepramukaan di semua tingkat itu perlu dan penting, asalkan disusun sedemikian rupa, dengan tujuan utama demi kepentingan peserta didik.
3. Suksesnya suatu kebijakan tergantung pada dua faktor, ialah:
a. mengerti benar apa itu Organisasi (fungsi, prinsip, tujuan), serta setiap individu dalam organisasi itu mengerti kedudukannya (dan peranannya dalam organisasi)
b. setiap anggota harus mematuhi peraturan dan ketentuan yang ditetapkan organisasi
“The aim of Scout Training is to improve the standard of our future citizenhood, especially in character and health, to replace self by service, to make the land individually efficient, morally and physically with the object of using that efficiency for service for fellowmen”
Maksud latihan kepanduan ialah memperbaiki mutu warga negara yang akan datang, khususnya dalam hal watak dan kesehatan, mengutamakan bakti dari pada kepentingan diri sendiri, membentuk kaum muda menjadi pribadi-pribadi yang berdayaguna, baik rohani maupun jasmaninya, dengan maksud agar daya guna itu dimanfaatkan bagi baktinya untuk sesame hidup.
“Let us therefore, in training our Scout, keep the higher aims in the forefront, not let ourselves become too absorbed in the steps. Don’t let the technical outweight the moral. Field efficiency, backwoodsmanship, camping, hiking, good-futures, jamboree comradeships are all means, not the end.
The end is character – character with a purpose. And that purpose, that the next generation be same in an insane world, and develop the higher realization of service, the active service of love and Duty to God and neighbor”
Oleh karena itu, marilah dalam melatih para Pandu kita, kita tempatkan tujuan utama pada garis terdepan, dan tidak membiarkan diri kita menjadi terlalu memikirkan langkah-langkahnya. Jangan memberi bobot latihan teknik lebih berat dari pembinaan watak. Kemahiran di lapangan, penjelajahan rimba, berkemah, pengembaraan, usaha mencapai masa depan yang baik, jambore persaudaraan, semuanya adalah Alat, bukan Tujuan.
Tujuan akhirnya adalah watak, - pembinaan watak dengan tujuan tertentu. Tujuan itu adalah bahwa generasi yang akan datang menjadi orang yang bijaksana di tengah dunia yang kurang bijaksana, dan mengembangkan perwujudan yang lebih tinggi dari baktinya, bakti yang aktif dari cinta dan kewajiban terhadap Tuhan dan sesame hidup.
“Then you will find that object of becoming an able and efficient Boy Scout is not merely to give you fun and adventure but that, like the backwoodsmen, explorers, and frontiersmen, who you are following, you will fitting yourself to help your country and to be of service to other people who may be in need to help. That best men are out to do”
Maka ternyata bahwa menjadi seorang Pandu yang cakap dan berdayaguna itu tidaklah hanya memberi padamu suatu kesenangan dan pengalaman yang hebat saja, tetapi seperti para penjelajah rimba, para perintis/pembuka jalan, dan pelopor yang kamu ikuti, kamupun harus menyiapkan dirimu untuk membantu negaramu, dan berguna bagi orang lain yang membutuhkan pertolongan. Itulah yang dikerjakan oleh orang-orang terbaik.
“We must keep the great aim ever before us and make our steps lead to it all the time. This aim is to make our race a nation of energetic, capable, workers, good citizens, whether for live in Britain or overseas, the best principle to his end is to get the boys to learn for themselves by giving them a curriculum which appeals to them, rather than by hammering it in to them in some form of dry-bones instructions. We have to remember that the mass of the boys are already tired with hours of school or workshop and our training should, therefore. Be in the form of recreation, and this should be out of doors as much as possible.
That is the object of our badges and games, our examples and standards.
The great aims means not only the practice of give-and-take with your own officers, but also with other organizations working to the same end.
In a big movement for a big object there is no room for little personal efforts; we have to sink minor ideas and link arms in a big “combine” to deal effectively with the whole .
We in the Boy Scout are players in the same team with the Boy’s Brigade, Church lands, YMCA, and Education Department, and others. Co-operation is the only way if we mean to win success”
Kita harus memelihara cita-cita yang luhur itu selalu ada di depan kita, dan langkah kita senantiasa menuju ke tercapainya cita-cita itu. Tujuan ini adalah untuk mengusahakan agar bangsa kita menjadi suatu bangsa yang penuh semangat, pekerja yang berkemampuan, warga negara yang baik, baik untuk hidup di Inggris maupun di luar negeri. Prinsip yang baik dalam hal; ini adalah membuat kaum muda belajar untuk diri mereka sendiri, dengan memberi mereka kurikulum yang menarik bagi mereka, daripada menggembleng mereka dengan instrksi-instruksi yang keras. Kita harus ingat bahwa kaum muda pada umumnya telah lelah dengan pelajaran di sekolah atau di lokakarya, dan latihan kita harus dalam bentuk hiburan (rekreasi) dan ini harus diusahakan sedapat-dapatnya dilakukan di alam bebas.
Itulah tujuan dari tanda kecakapan dan permainan kita, contoh dan norma kita.
Tujuan luhur itu bukan hanya pelaksanaan dari memberi dan menerima dengan anak buahmu sendiri, tetapi juga dengan organisasi lain yang bekerja untuk tujuan yang sama.
Di dalam organisasi besar dengan tujuan besar tidak ada tempat untuk usaha pribadi yang kecil, kita harus membuang gagasan yang sempit, dan bergandengan tangan dalam suatu “gabungan” yang besar, untuk menangani keseluruhannya secara efektif.
Dalam kepanduan kita adalah pemain dari satu tim bersama dengan Brigade Kaum Muda, Remaja Gereja, YMCA, Departemen Pendidikan, dan lain-lain. Kerjasama adalah satu-satunya jalan menuju keberhasilan.
“The different foreign countries, which have adopted Scouting for their boys are now forming a friendly alliance with us for mutual interchange of views, correspondence, and visits, and thereby to promote a closer feeling of sympathy between the rising generations. International peace an only be built on one foundation, and that is an international desire for peace on the part of the people themselves in such strength as guide their Governments”
Banyak Negara asing yang telah menerapkan kepanduan bagi kepentingan kaum mudanya, sekarang bekerja bersama kami, untuk saling mengunjungi, dan oleh karenanya tercipta perasaan simpati yang lebih akrab diantara generasi muda.
Perdamaian internasional hanya dapat terwujud di atas satu landasan, yaitu cita-cita internasioal untuk mencapai perdamaian di kalangan masjarakat itu sendiri, dan kekuatan yang demikian akan menjadi petunjuk bagi pemerintah masing-masing.
Dari Buku 3 dan Buku 5 KPD/KPL
MISI KEPRAMUKAAN
Pada World Scout Conference yang bersidang di Durban, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1999, telah diterima secara bulat oleh seluruh organisasi kepramukaan sedunia, rumusan Pernyataan Misi Kepramukaan. Pernyataan ini, didasarkan pada Konstitusi (Anggaran Dasar) WOSM, dimaksudkan untuk menegaskan kembali peran kepramukaan sekarang ini.
Pernyataan Misi Kepramukaan adalah sebagai berikut:
Misi Kepramukaan adalah turut menyumbang pada pendidikan kaum muda, melalui suatu sistem nilai yang didasarkan pada Satya dan Darma Pramuka, guna membantu membangun dunia yang lebih baik, di mana orang-orangnya adalah pribadi yang dirinya telah berkembang sepenuhnya dan memainkan peran konstruktif di dalam masyarakat.
Hal ini dicapai dengan:
melibatkan kaum muda dalam proses pendidikan nonformal selama tahun-tahun pembentukan kepribadiannya, menggunakan metode khusus yang membuat masing-masing pribadi menjadi penggerak utama dalam pengembangan dirinya sendiri, untuk menjadi orang yang mandiri, siap membantu sesamanya, bertanggungjawab dan merasa terpanggil,
membantu mereka dalam membentuk suatu sistem nilai yang didasarkan pada asas-asas spiritual, sosial dan personal, sebagaimana dinyatakan dalam Satya dan Darma Pramuka.
Pada World Scout Conference yang bersidang di Durban, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1999, telah diterima secara bulat oleh seluruh organisasi kepramukaan sedunia, rumusan Pernyataan Misi Kepramukaan. Pernyataan ini, didasarkan pada Konstitusi (Anggaran Dasar) WOSM, dimaksudkan untuk menegaskan kembali peran kepramukaan sekarang ini.
Pernyataan Misi Kepramukaan adalah sebagai berikut:
Misi Kepramukaan adalah turut menyumbang pada pendidikan kaum muda, melalui suatu sistem nilai yang didasarkan pada Satya dan Darma Pramuka, guna membantu membangun dunia yang lebih baik, di mana orang-orangnya adalah pribadi yang dirinya telah berkembang sepenuhnya dan memainkan peran konstruktif di dalam masyarakat.
Hal ini dicapai dengan:
melibatkan kaum muda dalam proses pendidikan nonformal selama tahun-tahun pembentukan kepribadiannya, menggunakan metode khusus yang membuat masing-masing pribadi menjadi penggerak utama dalam pengembangan dirinya sendiri, untuk menjadi orang yang mandiri, siap membantu sesamanya, bertanggungjawab dan merasa terpanggil,
membantu mereka dalam membentuk suatu sistem nilai yang didasarkan pada asas-asas spiritual, sosial dan personal, sebagaimana dinyatakan dalam Satya dan Darma Pramuka.
Langganan:
Postingan (Atom)